BERSAING DENGAN GOOGLE (Credit by Muhammad Hafiz R)

Pandahuluan

Di zaman modern seperti saat ini tidak luput dengan yang namanya google, website atau situs yang ada di jaringan internet yang sangat diyakini dapat memuat segala informasi dalam segala sesuatunya. Dalam acara sebuah pelatihan, seorang bertanya kepada narasumber tentang fungsi dan manfaat suatu perpustakaan yang telah banyak diketahui bahwa anak-anak di zaman sekarang saja setiap mencari informasi atau bacaan apapun melewati situs internet dengan bantuan google dan sudah jarang untuk mengunjungi perpustakaan.

Pertanyaan tersebut juga pasti terbenak kepada para pembaca sekalian, apakah di zaman seperti saat ini dengan fenomena keberadaan internet yang hamper mencakup keseluruhan informasi bagi para pengguna untuk memenuhi kebutuhan. Contoh lain seperti sekolah, guru kalah cerdas dengan murid sedangkan para murid sarapan dengan google sementara guru sarapan dengan pecel. Pertanyaan tersebut, masih di pertanyakan masyarakat karena di dalam perpustakaan yang banyak orang ketahui hanyalah sekedar tempat terkumpulnya buku serta koleksi untuk memenuhi kebutuhan1.

Adakah penelitian yang mengungkap, bahwa dengan kehadiran internet memiliki korelasi dengan penurunan pengunjung perpustakaan? Atau, justru sebaliknya, karena ada internetlah maka pengunjung perpustakaan justru makin naik. Sebab, ternyata tidak semua hal dapat dijawab secara memuaskan oleh Oom Google, sehingga masih perlu datang ke perpustakaan

 

Tentu saja, dibutuhkan penelusuran lebih cermat saling kait mengkait antara eksistensi perpustakaan dan Si Google ini. (henri nurcahyo).2

 

 

Internet vs Perpustakaan

Seperti dikemukakan sebelumnya, internet bukanlah substitusi dari perpustakaan. Internet tidak mungkin bisa menggantikan peran perpustakaan. Membandingkan internet dengan perpustakaan, mungkin sama halnya seperti membandingkan rumah tinggal dan rumah makan. Kedua jenis rumah ini biasanya menyediakan makanan dan minuman yang akan anda santap. Jika anda tidak pergi ke restoran alias rumah makan, anda bisa makan apa yang layaknya tersedia di rumah atau anda pesan dari restoran untuk disantap di rumah. Walaupun orang lebih sering makan di restoran ketimbang di rumah tetapi mereka tetap pulang ke rumah untuk melakukan aktifitas rumahan. Dengan kata lain, banyak orang tetap memerlukan perpustakaan sebagai tempat untuk bekerja dan belajar dengan tenang dan bahkan untuk menggunakan fasilitas akses internet dan sumber daya yang dikembangkan sendiri, dibeli atau dilanggan oleh perpustakaan.3

 

Perpustakaan sebagai tempat mungkin merupakan rumah kedua atau ketiga bagi para mahasiswa atau para siswa atau bagi penduduk atau sekelompok penduduk. Sebagai locus, peran perpustakaan tidak bisa disubsitusikan dengan internet sama seperti peran rumah tinggal tidak bisa disubsitusikan dengan rumah makan. Di lingkungan institusi pendidikan, baik pendidikan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah, para mahasiswa dan siswa ketika tidak sedang berada di ruang kelas atau ruang praktikum, mereka memerlukan atau setidaknya diharapkan berada di perpustakaan untuk belajar. Jadi mereka memerlukan ruang atau space untuk bekerja walaupun mungkin mereka hanya menggunakan sumber elektronik bukan sumber tercetak yang tersedia di rak perpustakaan. Seperti dikemukakan oleh seorang mahasiswa dalam sebuah survei bahwa dia dan rekannya mengerjakan proyek yang memerlukan penyelidikan mendalam di perpustakaan, tetapi mereka masing-masing menggunakan laptop atau tablet untuk mengakses sumber daya yang mereka perlukan (Eishen 2011). Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan sebagai rumah atau tempat belajar tetap diperlukan.4

 

Di lingkungan masyarakat umum, penduduk memerlukan ruang untuk membaca, berdiskusi, bahkan untuk rapat komunitas yang disediakan oleh sebuah perpustakaan umum. Mereka juga memerlukan koneksi internet dan mungkin juga komputer untuk mengakses internet yang disediakan oleh perpustakaan umum. Fasilitas seperti ini menjadi sangat penting artinya terutama bagi penduduk berpenghasilan rendah karena koneksi internet tidak tersedia di rumah mereka atau tidak secepat yang dimiliki oleh perpustakaan. Oleh karena itu, peran perpustakaan umum dalam penyediaan akses internet yang memadai adalah penting untuk menjaga agar kesenjangan pemerolehan informasi di antara penduduk berpenghasilan rendah dan berpenghasilan lebih tinggi tidak menjadi semakin melebar. Selain itu, bagi kelompok anak-anak penggunaan internet di perpustakaan umum tentu lebih sehat dibandingkan penggunaannya di tempat lain, karena pelayanan perpustakaan lebih terbuka dan terawasi dengan baik.

 

Sumber informasi tersedia di banyak tempat termasuk di perpustakaan dan berbagai situs web. Hampir semua orang pada awalnya akan memilih googling untuk memperoleh informasi yang mereka perlukan. Tetapi googling lebih cocok untuk informasi yang bersifat umum, tidak untuk tujuan menghasilkan karya akademik. Ketika seseorang harus mengutip berbagai sumber untuk suatu karya tulis berkualitas, mereka akan berpaling ke sumber informasi yang disediakan oleh perpustakaan. Apa yang tersedia di internet secara bebas, tidak semuanya berkualitas dan layak untuk dirujuk untuk menghasilkan suatu karya tulis berkualitas. Artikel jurnal tidak semua tersedia untuk diakses secara gratis (open access) apabila tidak dilanggan oleh perpustakaan. Demikian juga halnya dengan buku, baik bentuk tercetak maupun e-book tidak semuanya bisa diakses jika tidak dibeli lisensi dan disediakan oleh perpustakaan. Di lingkungan perguruan tinggi, para sivitas akademika bergantung pada database bibliografis yang dilanggan atau disediakan oleh perpustakaan untuk mendapatkan teks penuh artikel jurnal. Banyak perpustakaan perguruan tinggi menghabiskan milyaran rupiah untuk melanggan sejumlah database jurnal untuk mendukung kegiatan penelitian berkualitas yang dilakukan oleh para mahasiswa dan dosen.5

Kelebihan dan Kekurangan Internet

Kelebihan internet dibandingkan perpustakaan dalam penyelidikan suatu topik antara lain adalah penghematan waktu dan pemerolehan informasi mutakhir (London 2014). Bayangkan apabila informasi yang anda perlukan terdapat di sejumlah buku dalam sebuah perpustakaan. Anda harus mencari dalam berbagai judul dan memindai daftar isi dari buku-buku tersebut untuk mendapatkan apa yang anda cari. Di sisi lain, mesin pencarian internet dapat melakukan semua pekerjaan tersebut sehingga anda tidak perlu mondar-mandir (legwork) untuk menemukannya. Dengan melakukan penelusuran menggunakan kata kunci, ungkapan, atau pertanyaan (query), anda akan disajikan sejumlah situs web berisikan informasi yang relevan. Semakin spesifik penelusuran anda, semakin spesifik hasil yang diperoleh. Tidak ada waktu terbuang dan tidak menimbulkan frustrasi, anda dapat mengerjakan penyelidikan anda dengan lebih cepat dan lebih efisien.

Selain menghemat waktu, keuntungan penggunaan internet adalah memberikan informasi yang lebih mutakhir (current). Apabila sebuah buku diterbitkan, temuan baru tidak dapat ditambahkan ke dalam buku tanpa menerbitkan ulang buku tersebut. Selalu ada perkembangan baru dalam dunia ilmu pengetahuan, kesehatan, pendidikan, hiburan, dan politik; di mana para penulis dan penerbit tidak dapat selalu menjaganya. Informasi di internet dapat diremajakan (updated) secara konstan dan kemudian secara instan langsung tersedia untuk diunggah di mana saja dan kapan saja di seluruh dunia. Untuk memastikan anda tidak menggunakan informasi yang kadaluarsa (out-of-date) dalam suatu topik penyelidikan, pilihan terbaiknya adalah internet.

 

Kekurangan internet dibandingkan dengan perpustakaan adalah informasi yang tidak reliabel dan gangguan (London 2014). Tatkala mungkin ada ratusan dari ribuan situs web online yang kredibel dan reliabel, tetapi ada juga sebanyak itu yang memberikan informasi yang tidak akurat yang didasarkan pada spekulasi dan pendapat yang berbias. Walaupun mungkin ada buku perpustakaan yang masih menyajikan pandangan yang bersifat personal dan berbias; bagaimana pun setiap orang dapat mempublikasikan suatu situs web dengan konten yang diinginkannya. Anda harus menghindarkan penggunaan informasi yang tidak qualified atau tidak akurat yang tersedia melalui internet.

Selain informasi yang tidak reliabel, adakalanya ada gangguan (distraction) ketika anda menggunakan internet, yang tidak anda temukan ketika sedang berada di perpustakaan. Semakin sedikit gangguan, semakin banyak pekerjaan yang dapat anda selesaikan. Di dalam perpustakaan, anda tidak hanya memiliki sumber daya yang unggul dalam jangkauan, tetapi juga lingkungan optimal untuk melakukan penyelidikan. Ketika menggunakan internet, juga ada godaan e-mail yang masuk, pesan instan, iklan pop-ups, dan godaan untuk memeriksa status teman. Semua gangguan seperti itu dapat mengalihkan fokus perhatian anda dari penyelidikan yang sedang anda kerjakan. Hal ini dapat menyebabkan dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan jawaban yang anda cari.

Internet dan Peran Perpustakaan Umum

Teknologi dan internet sedang mengubah kebiasaan membaca banyak orang dan kaitannya dengan perpustakaan. Banyak orang memiliki tablet sendiri atau telepon seluler yang bisa digunakan untuk membaca bahan elektronik. Penelitian di Amerika Serikat baru-baru ini menunjukkan bahwa warganegaranya masih membaca buku cetak sebanyak seperti yang mereka baca sebelumnya. Oleh karena itu, peran perpustakaan masih dipandang penting di suatu komunitas. Berikut ini adalah hasil dari penelitian yang dilakukan oleh American Library Association (ALA) pada perpustakaan umum di Amerika Serikat (Zickuhr and Rainie 2014).7

Walaupun kegiatan membaca e-book tumbuh tetapi buku cetak masih mendominasi dunia baca. Berdasarkan penelitian ALA, 28% orang dewasa Amerika berusia 18 tahun ke atas membaca satu e-book dalam tahun terakhir, meningkat dari 17% pada tahun 2011. Enam puluh sembilan persen masih membaca buku cetak, sama seperti tahun sebelumnya. Empat persen yang hanya membaca e-book saja, tetapi mayoritas pembaca e-book juga adalah pembaca buku cetak. Pertumbuhan baca e-book berkaitan erat dengan peningkatan kepemilikan komputer tablet dan e-reader. Lima puluh persen orang dewasa memiliki tablet sendiri atau e-reader. Kepemilikan peralatan tersebut meningkat, 32% membaca menggunakan telepon seluler, dan 29% menggunakan laptop atau desktop dalam 12 bulan terakhir.

Orang Amerika mengapresiasi perpustakaan terutama untuk peran yang dilakukannya dalam komunitas. Sembilan puluh persen mengatakan bahwa penutupan perpustakaan umum lokal akan berdampak pada komunitas di mana mereka berperan. Enam puluh tujuh persen mengatakan bahwa penutupan akan berdampak pada mereka dan keluarga mereka. Akses buku, media dan tempat membaca yang tenang dan nyaman adalah layanan favorit yang disediakan oleh perpustakaan. Delapan puluh persen mengatakan bahwa tidak perlu biaya untuk mengakses buku dan media merupakan pelayanan yang paling penting yang disediakan oleh perpustakaan, diikuti dengan bantuan pustakawan (76%), tempat yang tenang dan nyaman untuk membaca (75%), dan ketersediaan sumber daya penelitian (72%). Prioritas tertinggi publik untuk perpustakaan adalah untuk anak dan literasi. Delapan puluh lima persen mengatakan perpustakaan seharusnya berkoordinasi lebih dekat dengan sekolah lokal, dan 82% percaya bahwa perpustakaan akan menyediakan program literasi untuk anak-anak muda termasuk membaca, menulis, dan pemahaman tradisional, dan juga literasi teknologi dan media baru.8

Kesimpulan

Itulah beberapa kelemahan internet apabila dibandingkan dengan perpustakaan dalam hal pencarian informasi. Intinya, kita sebagai manusia tidak boleh terlalu tergantung kepada apa yang namanya teknologi. Lebih baik kita tergantung kepada manusia lain, mengingat kita merupakan makhluk sosial, bukan robot. Saya ingat kata-kata paman Peter Parker dalam Spiderman 1, “seiring datangnya kekuatan besar, datang pula tanggung jawab yang besar”. Seiring pesatnya kemajuan di bidang teknologi yang memudahkan setiap kerja manusia, datang pula tanggung jawab yang besar untuk bisa menggunakannya dengan semestinya, dan tidak menyalahgunakannya. Selamat malam, dan sukses selalu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa internet tidak bisa menggantikan seluruh peran perpustakaan. Keduanya masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan. Internet merupakan perangkat yang diperlukan untuk pemerolehan informasi yang bersifat umum. Informasi yang diperoleh melalui sumber internet perlu diverifikasi realibilitas dan keakuratannya sebelum digunakan dalam sebuah penyelidikan. Informasi ringkas seperti abstrak artikel jurnal yang disajikan oleh berbagai situs web atau mesin pencarian yang khusus sangat bermanfaat, tetapi sebagian besar teks penuhnya hanya tersedia melalui database bibliografis yang dilanggan oleh perpustakaan. Demikian juga halnya dengan e-book, tidak semuanya tersedia secara gratis, sebagian besar lisensi penggunaannya harus dibeli oleh perpustakaan.9

Ruang atau space yang disediakan perpustakaan tetap diperlukan oleh masyarakat untuk bekerja dan belajar yang tenang dan nyaman termasuk penyediaan akses internet bagi pemustaka yang tergolong tidak mampu secara ekonomi. Perpustakaan yang disukai adalah perpustakaan yang inovatif dalam penggunaan teknologi dan penyediaan konten lokal seperti repositori institusi, dan pegembangan pelayanan kreatif yang khas bagi kebutuhan komunitas atau konstituen yang menjadi target pelayanannya.10

Kepribadian Pustakawan

Memahami kepribadian bukan merupakan hal yang mudah karena kepribadian merupakan masalah yang kompleks. Kepribadian itu tidak hanya melekat pada diri sesorang, tetapi lebih merupakan hasil suatu pertumbuhan yang lama dalam suatu lingkungan budaya. Beberapa ahli menyebutkan bahwa kepribadian adalah kesan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat lahiriah seseorang, seperti cara berpakaian, sifat jasmaniah, daya pikat dan sebagainya. Heldebrand (1988:25)mendefinisikan kepribadian yang kemudian ditafsirkan secara bebas oleh Sugiyarto,Endar (1999:8) bahwa keprribadian merupakan gabungan kualitas, kebiasaan dan reaksi yang terbentuk atas dasar kesadaran kita dan yang dikenali sebagai suatu hal yang baik atau tidak baik, secara umum, direspon positif atau tidak oleh mereka yang melakukan kontak dengan kita.Lain halnya dengan Allport,Gordon.W yang diunduh pada 27 Oktober 2011 dari (http://www.papercamp.com/essay/kepribadian)bahwa kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas. Organisasi dinamis menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah melalui proses pembelajaran atau pengalaman-pengalaman dsb.Istilah psikofisik menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah semata-mata menta.11

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Iklan

Kepustakawanan Dalam Digital Library

A. Perkembangan Teknologi dan Informasi
Perkembangan dan kemajuan teknologi dalam bidang informasi, misalnya penemuan jaringan internet accesss, informasi dalam bentuk digital, dan lain-lain telah memberikan dampak positif yang sangat besar dalam dunia perpustakaan. Dalam tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhuan pencari informasi yaitu pengguna jasa perpustakaan. Perpustakaan adalah bangunan utama untuk melahirkan suatu komunitas ilmiah dan masyarakat informasi. Perpustakaan merupakan jalan menuju masyarakat modern yang berperadaban. Namun demikian, untuk merealisasikan semua impian itu bukanlah sesuatu yang mudah. Secara terus-menerus dilakukan inovasi untuk menciptakan perpustakaan yang sesuai dengna tuntutan zaman

Dalam beberapa persepsi yang berkaitan dengan munculnya digital library dalam kancah disiplin ilmu perpustakaan dan informasi. Menurut Brian Lang dalam buku Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi tentang digital library, ia menilai bahwa digital library merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menggambarkan penggunan teknologi digital untuk memperoleh, menyimpan, melestarikan, dan menyediakan akses terhadap informasi dan materi-materi yang diterbitkan dalam bentuk digital atau digitalisasikan dari bentuk tercetak, audiovisual dan bentuk – bentuk lainnya. Tujuan utama dalam persepsi ini adalah untuk memberikan akses kepada seluruh pemakai dalam menyebarkan informasi yang cepat, tepat dan andal. Digital Library menurut Gladney bahwa digital library adalah perpustakaan yang harus menyediakan semua jasa dari jasa perpustakaan tradisional dan juga harus mendayagunakan kelebihan dan manfaat dalam bentuk digital.

B. Keberadaan Perpustakaan di Era Digital

Pustakawan dalam melayani jasa informasi dan dokumentasi harus berperan aktif sebagai tenaga penyuluhan berbagai lapisan masyarakat. Pustakawan juga dituntut untuk dapat memberikan layanan informasi sesuai latar belakang pendidikan yang dimiliki.
Layanan perpustakaan kepada masyarakat selain layanan standar yang ada, seperti layanan ruang baca, sirkulasi, layanan rujukan maupun layanan fotokopi, perpustakaan juga dapat melakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Membuka layanan internet yang dapat mengakses berbagai judul
buku yang dibutuhkan oleh pembaca.
2. Membuka layanan konsultasi tentang perpustakaan digital
3. Membuka website tentang pengetahuan kepustakaan

Layanan jasa yang diberikan perpustakaan kepada masyarakat akan membangun kepercayaan masyarakat, menciptakan citra yang baik, yang mana layanan maupun citra tersebut bukan hanya datang begitu saja melainkan dibangun dengan kerja keras dari pustakawan pengelola perpustakaan. Perpustakaan senantiasa harus mengikuti perkembangan informasi terkini/ mutakhir melalui berbagai media dan internet. Untuk mencapai keberhasilan dalam suatu perpustakaan harus mempunyai kekuatan dalam bidang sebagai berikut:
1. Sumber daya manusia.
2. Pustakawan cekatan dalam menangani kasus-kasus terutama dalam hal penelusuran maupun pemberian informasi yang dibutuhkan.
3. Koleksi bahasa pustaka.
4. Sarana dan prasarana.
5. Pengunjung, anggota dan masyarakat pemakai.
6. Lingkungan perpustakaan.
7. Mitra kerja.
8. Anggaran tidak kalah pentingnya dalam pengelolaan suatu perpustakaan.

Tantangan Pustakawan dalam Mengembangkan Perpustakaan di Era Perkembangan TIK

Kendala yang nyata dan tidak disadari oleh perpustakaan dalam rangka pengembangan perpustakaan di era perkembangan teknologi informatika yang semakin pesat adalah ketidak pedulian pustakawan dengan dunia luar. Kenyataan ini memang sangat terlihat di sebagian besar perpustakaan yang ada di indonesia karena pustakawannya terutama yang memiliki perpustakaan berlatar belakang SMA dan sudah berumur kebanyakan tidak mau untuk mengikuti perkembangan yang ada di sekarang ini dan mereka juga kurang mau bergaul sesama pustakawan yang lain sehingga sharing (tukar pengalaman) dengan pustakawan lain sangatlah kurang.dengan demikian, komunikasi ssantara masyarakat dan perpustakaan tidak berjalan dengan lancar.

Contoh – contoh dalam peneranapan perangkat lunak dalam otomasi perpustakaan

Kebutuhan akan sistem informasi manajemen di perpustakaan yag semakin kompleks membuat para developer unutk menciptakan software perpustakaan baik open source maupu berlisensi atau close source. Open source atau sumber terbuka merupakan suatu sistem program pengembangan aplkasi yang tidak dibuat oleh vendor. Software open source yang sudah banyak digunakan untuk mengelola perpustakaan yaitu CDS/ISIS, Inmagic, SIPISIS (under Dos dan Windows), WINISIS, SPEKTRA, NCBookman, Lontar, GDL (Ganesha Digital Library), E- Lib, Elims. Semua software tersebut dikembangkan sendiri oleh pengembang untuk keperluan bisnis sehingga pengguna softwarehanya berfungsi sebagai operator dan pengguna sistem saja bukan sebagai admin yang dapat memodifikasi software
tersebut sesuai dengan kebutuhann. Adapaun rincian beberapa software yang dapat diuraikan sebagai berikut
1. CDS/ISIS
Perangkatlunak CDS/ISIS (Computerized Documentation Services / Integrated Set of Information System) dibuat oleh UNESCO memungkinkan untuk menyusun dan mengolah data terstruktur yang non-numerik. CDS/ISIS dapat memberikan fasilitas untuk merancang pangkalan data sesuai dengan kebutuhan pemakai, membuat cantuman baru, memodifikasi atau menghapus data, proses temu kembali yang cepat, dan pencetakan cantuman sesuai dengan kebutuhan
2. SPEKTRA
Software New Spektra merupakan perangkat lunak manajemen perpustakaan terpadu
yang dibuat oleh Universitas Kristen Petra. Software ini mempunyai fitur seperti union catalog, SVL membership, catalog (OPAC), digital resources, processing, circulation dan operator module. Keunggulan dari software ini adalah kerjanya lebih cepat, gampang penggunaannya, mempunyai fitur interaktif.
3. Lontar
Lontar merupakan suatu sistem perpustakaan digital berbasis internet yang dikembangkan dengan pendekatan end-to-end dalam siklus kegiatan perpustakaan, mulai dari penelusuran catalog, sirkulasi, pengadaan koleksi, dan pelaporan manajemen.
4. CDS/ISIS (WINISIS)
CDS/ISIS Versi Windows atau lebih dikenal dengan Winisis adalah suatu program yang dapat digunakan untuk mengelola database. Program ini secara khusus dibuat untuk digunakan pada perpustakaan, pusat informasi, dokumentasi dan kearsipan. Winisis dapat menangani data yang selain bentuk teks atau data multimedia yaitu kombinasi data berupa teks, gambar diam atau bergerak (video) serta data suara.
5. Senayan
SLiMS adalah Open Source Software (OSS) berbasis web yang dapat memenuhi kebutuhan otomasi perpustakaan (library automation) skala kecil hinga skala besar. Senayan dikembangkan di atas bahasa pemrograman web paling popular saat ini yaitu PHP 5 dan RDBMS MsSQL 5 untuk backend penyimpanan datanya. SENAYAN diproduksi oleh Pusat
Informasi dan Humas Depdiknas RI dan saat ini juga sudah mulai banyak digunakan oleh
institusi perpustakaan lain di bawah Depdiknas seperti Pusat Bahasa. Sebagai sebuah aplikasi automasi terintegrasi SENAYAN memiliki fitur -fitur berikut ini:
o Online Public Access Catalog
o Manajemen Bibliographic Database
o Sirkulasi Koleksi
o Keanggotaan
o Stock Taking
o Reporting
o Pembuatan Barcode koleksi
o Konfigurasi Sistem
o Multi bahasa untuk user interface

6. Ganesha Digital Library
GDL merupakan suatu sofware perpustakaan digital yang dikembangkan oleh Knowledge Management Research Group (KMRG) Institut Teknologi Bandung dengan tujuan untuk memanfaatkan modal intelektual (intellectual capital) dari civitas akademika ITB yang meliputi artikel, jurnal, tugas akhir, thesis, disertasi, hasil penelitian, expertise directory dan lain – lain.
7. E- Lib
E-lib merupakan sistem informasi perpustakaan online yang dibuat oleh Bank mandiri dan digunakan di Perpustakaan Universitas Udayana. Sistem ini terdiri atas tiga modul yaitu modul anggota, operator dan administrator. Modul Administrator memberikan panduan kepada seseorang bertugas sebagai administrator. Menu utama layar operator terdiri dari Menu Utama Anggota, Menu Utama Pustaka, Menu Utama Pengaturan, Menu Utama tampilan, dan Menu Utama Backup & Restore.
Beberapa alasan menegenai open source banyak dikalangan berbagai institusi seperti sedikit membutuhkan biaya bahkan kemungkinan gratis, tidak ada biaya pemeliharaan dan sesuai standar dengan pengembangan software. Beberapa contoh software open source yang sering digunakan untuk repositori dan otomasi perpustakaan yaitu Greenstone, Open Journal System, Dspace,Unalog, Archimede, NOTIS, dbWiz, SLiMS, GDL, Eprint, dan lainnya. Dari kesemua software open source tersebut, paling sering digunakan di perpustakaan adalah Greenstone, Dspace, SliMS, GDL, dan Eprint. Software SLiMS dan GDL dikembangkan oleh pengembang Indonesia dan telah banyak digunakan di berbagai Negara.
Ruang lingkup yang harus dipersiapkan dalam program otomasi perpustakaan adalah
1) Membuat Desain perencanaan otomasi perpustakaan (TOR)
2) Pengadaan Hardware, software, sarana dan prasarana
3) Instalasi hardware dan software
4) Pelatihan admin dan pengguna software
5) Konversi digital (alih media)
6) Uji coba system otomasi oleh pustakawan, pimpinan dan pemustaka
7) Sosialisasi
 

 

 

Kendala yang dihadapi dan solusinya
1. Kurangnya pengetahuan tentang ICT, untuk ini perlu dilakukan sosialisasi maupun kesempatan kepada pengelola untuk mendalami bidang ICT
2. Kurangnya ketrampilan pemanfaatan IT, sehingga perlu sosialisasi / trining dalam memanfaatkan infrastruktur pendukung otomasi perpustakaan.
3. Banyaknya software yang ditawarkan, untuk ini perlu pendalaman dan konsultasi dengan berbagai pihak yang terkait berkenaan dengan kelebihan dan kekurangan dari masing – masing software
4. Kurangnya komunikasi antara penyandang dana, pengelola perpustakaan, teknisi dan pengguna perpustakaan, sehingga perlu komunikasi dan koordinasi antara pimpinan, staf dan teknisi dalam memutuskan untuk otomasi perpustakaan.
5. Team work yang lemah, saling curiga, kurang motivasi, sehingga perlu adanya training tentang kerja team

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hildayati Raudah Hutasoit. (n.d.). PERPUSTAKAAN DIGITAL PERPUSTAKAAN MASA DEPAN, 7.
I PUTU SUHARTIKA. (n.d.). IMPLEMENTASI SOFTWARE OPEN SOURCE UNTUK OTOMASI PERPUSTAKAAN, 25.
Merdansah. (n.d.). PELUANG DAN TANTANGAN PUSTAKAWAN DI ERA TI UNTUK MENINGKATKAN MUTU LAYANAN, 16.
Muryati & Irwan Sulistyawan. (n.d.). PELUANG DAN TANTANGAN PUSTAKAWAN DALAM MENGHADAPI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI, 12.
Norlice Vera Potoboda, ,Servi Stevi Sumendap, & Yuriewati Pasoreh. (n.d.). MEMBANGUN SISTEM OTOMASI PERPUSTAKAAN SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PERPUSTAKAAN, 10.
Parhan Hidayat. (n.d.). BERSAING DENGAN GOOGLE: BAGAIMANA PERPUSTAKAAN TETAP UNGGUL DALAM PENCARIAN INFORMASI, 8.
SANTOSO, A. H. (n.d.). PEMBUATAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN, (1), 71.
Widodo, O. C. (n.d.). EFEKTIFITAS PENGGUNAAN SOFTWARE OPEN SOURCE (SLIMS) PADA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI MALANG, 17.
Yuniwati. Suwondo. (n.d.). OTOMASI PERPUSTAKAAN, 9.